Ketika kita terjatuh dalam sebuah
cinta yang bahkan sulit kita untuk menggapainya, satu hal yang perlu dilakukan
adalah merelakan. Merelakan apa yang tak mampu kita raih. Seseorang pernah
berkata. Bahwa level tertinggi dalam mencintai seseorang adalah melepaskan dia
untuk bahagia bersama pilihannya. Sanggup? Terkadang, mungkin mengalah pada
takdir adalah cara terbaik yang dilakukan. Merelakan, salah satu opsi yang
dapat dilakukan. Pernah dengar kalimat cinta tak harus memiliki? Ya! Cinta bukan
hanya sekedar memiliki nya didalam dekapan kita selalu. Cinta tak sesederhana
itu. Cinta itu...ketika kita mampu selalu bahagia nyaman bketika kita bersama. Sama
seperti cinta kepada teman, sahabat, keluarga. Kita selalu hidup dipenuhi
dengan cinta. percayalah. Jika tidak ada cinta disekitar kita, maka tidak akan
ada kebahagiaan bersama kita. Tidak ada batasan usia untuk mengenal cinta. bayi
hingga tua pun boleh merasakan apa itu cinta. hanya saja, kadar cinta ataupun
jenis cinta yang diterima atau yang diekspresikan berbeda jenis.
Nah, back to topic. Merelakan. Banyak
orang bilang “kalo namnaya cinta ya nggak bisa lah kita jauh-jauh apalagi
merelakan dia sama orang lain” bolehlah. Tapi, kalo orang yang kamu cintai
nggak bahagia sama kamu? Nggak nyaman sama kamu? Gimana? Ini hal yang
menyebabkan banyak pasangan-pasangan muda itu sibuk berganti-ganti pasangan. Karena,
sebenarnya mereka hanya terlibat dalam suatu hubungan kebiasaan, oke bahas ini
dulu bentar ya. Bedakan, antara suka karena kebiasaan bersama dan suka karena perasaan
bersama. Eits! Gini,kebiasaan bersama itu kayak ibarat kamu tuh lagi butuh duit
tau-tau ada duit banyak yang dateng ke kamu. Seneng kan? Nah itu tuh kayak
gitu. Sama kayak pas kamu lagi jomblo lagi pingin punya pasangan, tau-tau ada
orang yang buaik banget ke kamu ngasih perhatian lebih dan itu dilakukan secara
terus menerus. Kamunya jadi seneng kan ada yang merhatiin? Iya pasti. Ntar, tau-tau
kalo si’pemerhati’ tadi serius ya berarti kalian lanjut. Kalo nggak yaudah
temenan aja sampe lebaran monyet. Nah kalo perasaan bersama, itu ibarat kalian
udah mau gimana-gimana sejorok-joroknya dia, sekampret-kampretnya dia, kamu itu
tetep nyaman buat liat dia. Perasaan kamu Gapernah ngerasa risih. Walaupun kadang
status Cuma sebagai temen deket. Nah bedanya antara kebiasaan sama perasaan tuh
kadang tak terlihat cuy. Samar-samar. Makanya perlu untuk kita sering bertanya
pada hati nurani. Apakah benar-benar itu perasaan atau kebiasaan. Karena, awal
dari percintaan yang putus-nyambung itu ya karena kebiasaan. Hey, cintai
orangnya jangan kebiasaannya aja. Karena betul gaksih kalo kalian (yang
pacaran) putus kangennya sama kebiasaan pas lagi bareng kan? Perasaannya? Udah beda.
Oke cukup.
Next, merelakan berarti harus
bisa memposisikan diri. Jangan memaksakan kehendakmu terhadap dia. Cinta emang
ga selalu indah. Yagitu, rumit. Kalo kamu bener-bener mencintai seseorang,
tidak mencari-carai kekurangannya ataupun kelebihannya. Tidak pergi setelah tau
segala aspek kekurangannya. Tidak memuji berlebihan terhadap kelebihannya. Mungkin
itulah yang namanya jatuh cinta. dan, kalau kamu mampu untuk melihat dia
bahagia walaupun itu bukan bersamamu, itu adalah level mencintai tertinggimu,
yaitu berusaha untuk rela. Bahagianya, bukankah bahagiamu juga? Kadaang terasa
sakit melihatnya bahagia tapi tidak bersamamu. Namun inilah yang disebut
merelakan. Merelakan bukan berarti harus berhenti mencintai. Hanya cukup
menyimpan rasa itu didalam hati, menyelipkan sebaris doa untuknya agar dia
selalu bahagia bersama pilihannya. Belajar memang sulit, apalagi belajar
merelakan. Uhuy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar